MAKALAH
POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE RASULULLAH
OLEH:
NAMA :
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Rasulullah SAW sebagai suri teladan dan rahmatan lil’alamin bagi
orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut
Allah (alahzab: 21) pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan islam.
Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spiritualisme
dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan mukjizat luar
biasa, yang manusia apa dan dimana pun tidak dapat dilakukan hal yang sama.
Hasil pendidikan islam
periode Rasulullah terlihat dari kemampuan muridmuridnya (para sahabat) yang
luar biasa, misalnya: umar ibn Khotab ahli hukum dan pemerintahan, Abu Hurairah
ahli hadist, Salman al- Farisi ahli perbandingan agama: Majusi, Yahudi, Nasrani
dan Islam; dan Ali ibn Abi Thalib ahli hukum dan tafsir alQur’an, kemudian murid
dari sahabat dikemudian, tabi- tabiin, banyak yang ahli dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan sains, teknologi, astronomi, filsafat yang mengantar islam ke
pintu gerbang zaman keemasan. Hanya periode Rasulullah, fase Makkah dan
Madinah, para aktivis pendidikan dapat menyerap berbagai teori dan prinsip
dasar yang berkaitan dengan pola- pola pendidikan dan interaksi social yang
lazim dilaksanakan dalam setiap manajemen pendidikan Islam.
Gambaran dan pola
pendidikan islam diperiode Rasulullah SAW dimekkah dan Madinah adalah sajarah
masa lalu yang perlu kita ungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber
gagasan, gambaran strategi menyukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam.
Pola pendidikan dimasa Rasulullah tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi,
kurikulum, pendidikan, peserta didik, lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya
yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoritis maupun
praktis.
- RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana keadaan
sosiokultural masyarakat makkah?
2. Bagaimana keadaan
sosiokultural masyarakat madinah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SOSIOKULTURAL
MASYARAKAT MEKKAH DAN MADINAH
Kondisi sosiokultural
masyarakat Arab pra- Islam. Terutama pada masyarakat Mekkah dan Madinah. Secara
jumlah orang- orang yang masuk Islam pada fase Mekkah lebih sedikit dari
pada orang- orang yang masuk Islam pada fase Madinah. Hal tersebut diantaranya
disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat
Madinah lebih mudah dimasuki ajaran Islam saat kondisi masyarakat, khususnya
Aus dan Khazraj, sangat membutuhkan seorang pemimpin untuk melenturkan pertikaian
sesama mereka dan sebagai “pelindung” dari ancaman kaum Yahudi, di samping
sifat penduduknya lebih ramah yang dilatarbelakangi letak wilayah yang lebih nyaman
dan subur. Pola pendidikan Islam periode Rasulullah SAW yang dapat dibedakan
menjadi dua fase, yaitu: Fase Mekkah dan Fase Madinah.
Fase Mekkah
Sebagai calon panutan umat manusia, Muhammad ibn Abdullah sejak “awal
sekali” telah disiapkan Allah, dengan menjaganya dari sikap-sikap jahiliah, dengan
akhlaknya yang terpuji. Muhammad ibn Abdullah masih sempat mendapat gelar
penghargaan tertinggi, yaitu: al- amin. Ibn Abdullah, seseorang yang teguh
mempertahankan tradisi nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki,
menjauhkan diri dari keramaian dan menyendiri di Gua Hira. Pada tanggal 17 Ramadhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat
al- Alaq 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Mekkah.
a. Tahapan
Pendidikan Islam pada Fase Mekkah
Pola pendidikan yang
dilakukan oleh Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang
disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini ada tiga tahap:
1.
Tahapan Pendidikan Islam Secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation) al-Qur’an
surat 96 ayat
5 pola
pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi sembunyi mengingat kondisi yang
belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula- mula
Rasulullah mendidik istrinya Khadijah untuk beriman kepada Allah dan menerima
petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Thalib (anak pamannya)
dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat
menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Siddiq. Secara
beransur- ansur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih
terbatas dikalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja, seperti Usman Ibn Affan,
Zubir Ibn Awan, Sa’at Ibn Abi Waqas, Abdurrahman Ibn auf, Thalhah Ibn
Ubaydillah, Abu Ubaydillah
Ibn Jahrah, Arqam Ibn Arqam, Fatimah Binti Khattab, Said Ibn Zaid dan berapa
orang lainnya mereka semua tahap awal ini disebut Assabiquna Al-awwalun, artinya
orang- orang yang pertama masuk Islam. Sebagai lembaga
pendidikan dan pusat kegiatan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah
Arqam Ibn Arqam.
2.
Tahap
pendidikan Islam secara terang- terangan
Pendidikan secara
sembunyi- sembunyi berlangsung tiga tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang
memerintahkan dakwah secar terbuka dan terangterangan. Ketika wahyu tersebut
turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul dibukit Shafa,
menyerukan agar berhati- hati terhadap azab yang pedih bari orang-
orang yang tidak mengakui Allah sebagi Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai
utusanNya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, celakalah kamu Muhammad! Untuk
ini kah kami mengumpulkan kami? Saat itu turun wahyu menjelaskan tentang Abu Lahab
dan istrinya.
Perintah dakwah secara
terang- terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang
semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut
banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Di samping itu, keberadaan
rumah Arqam Ibn Arqam sebagi pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui
oleh kuffar Quraisy.
3.
Tahap
pendidikan Islam untuk umum
Hasil seruan dakwah
secara terang- terangan yang terfokus kepada keluarga dekat kelihatannya belum
maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka, Rasulullah mengubah strategi
dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga beralih kepada seruan umum,
umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut
didasarkan kepada perintah Allah, surat al- Hijr ayat 94- 95.
Rasulullah mendatangi
kemah- kemah para jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima kecuali
sekelompok jamaah haji dari Yastrib, kabilah Khazraj yang menerima dakwah
secara antusias. Dari sinilah Islam keluar Mekkah. Penerimaan masyarakat
Yastrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenakan beberapa
faktor:
1. Adanya kabar dari kaum
Yahudi akan lahir seorang Rasul.
2.
Suku Aus dan Khajraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi.
3. Konflik antara Khajraj dan aus yang
berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama.
Oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pemimpin yang mampu
melindungi dan mendamaikan mereka.
Berikutnya, di musim haji
pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad, Rasulullah didatangi dua belas orang
laki- laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan yang dikenal dengan “Bai’ah
Al- ‘aqabah I” mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah swt.,
tidak akan mencuri dan berzina, tidak akan membunuh anak- anak, dan menjauhkan
perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dan tidak
mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.
Berkat semangat yang
dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam sehingga seluruh penduduk
Yastrib masuk Islam kecuali orang- orang Yahudi. Musim haji berikutnya 73 orang
jamaah dari yastrib mendatangi Rasulullah saw dan menetapkan keimanan kepada
Allah dan rasulnya ditempat yang sama dengan pelaksanaan (Bai’ah Al-
‘aqabah I tahun lalu) yang dikenal dengan Bai’ah
Al- ‘aqabah II dan mereka
bersepakat akan memboyong Rasulullah ke Yastrib.
b. Materi
Pendidikan Islam
Materi
pendidikan pada fase Mekkah dapat dibagi kepada dua bagian yaitu:
1.
materi
pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama
tauhid yang dibawa nabi Ibrahim yang telah diselewengkan oleh masyarakat
Jahiliyah. Secara teori inti sari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat
al- Fatihah ayat 1- 7 dan surat al- Ikhlas ayat 1- 5. Secara praktis pendidikan
tauhid diberikan melalui carayang bijaksana menuntut pikiran
dengan mengajak umatnya untuk membaca, memerhatikan, memikirkan kekuasaan dan
kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. Kemudian beliau mengajarkan cara
bagaimana cara mmenerapkan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari- hari. Rasulullah
langsung menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasaan masyarakat arab yang
memulai perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim.
Kebiasaan menyembah berhala diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah
swt.
2.
Materi pengajaran al- Quran. Materi ini dapat
dirinci:
1.
Materi
baca tulis al- Quran, dengan materi ini diharapkan agar kebiasaan orang arab yang sering
membaca syair- syair indah diganti dengan membaca al- Quran sebagai bacaan yang
lebih tinggi nilai sastranya.
2.
Materi
menghafal ayat- ayat al- Quran.
3.
Materi
pemahaman al- Quran, tujuan materi ini adalah meluruskan pola pikir umat Islam
yang dipengaruhi pola pikir jahiliyah.
c. Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan yang dilakukan
Rasulullah antara lain:
1.
Metode
ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-
penjelasan serta keterengan- keterangannya.
2.
Dialog,
misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus
sebagi kadi ke negeri Yaman, dialog antara rasul dengan para sahabat untuk
mengatur strategi perang.
3.
Diskusi
atau tanya jawab, sering Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian Rasul menjawab.
4.
Metode
perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah
satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya.
5.
Metode
kisah, misalnya kisah beliau dalm perjalanan isra’dan miraj dan kisah tentang
pertemuan nabi Musa dengan nabi Khidir.
6.
Metode
pembiasaan: membiasakan kaum muslimin shalat berjamaah.
7.
Metode
hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al- Quran dengan
menghafalnya.
d. Kurikulum
Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan
Islam pada periode Rasulullah baik di Mekkah maupun di Madinah adalah al- Quran yang
Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami oleh umat Islam pada saat itu.
e. Lembaga
Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan Islam pada fase Mekkah ada dua
macam tempat, yaitu:
1.
Rumah
Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta
Rasulullah untuk belajar hukum- hukum dan dasar- dasar ajaran Islam. Rumah ini
merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam
Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
2.
Kuttab. Pendidikan
di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakan dirumag Arqam ibn Arqam, pendidikan
di rumah Arqam ibn Arqam kandungan materi tentang hukum Islam dan dasar- dasar
agama Islam.sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada
materi baca tulis sastra, syair arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah
datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis Al- Qur’an dan
memahami hukum- hukum
Islam.
Adapun guru yang mengajar di kuttab pada era awal Islam adalah orang-orang non- Islam.
Salam sejarah pendidikan Islam istilah kuttab berasal dari bahasa arab yakni kataba,
yaktubu, kitaaban yang artinya telah menulis, sedang menulis dan tulisan,
sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis.
Fase Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad
saw bersama kaum muslimin Mekkah, disebut oleh penduduk Madinah dengan gembira
dan penuh rasa persaudaraan. Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari
ancaman para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang bisa dgunakan untuk menyampaikan
ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari- hari. Wahyu secara
beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad saw dalam
mengajarkan al- Quran adalah mengajarkan pengikutnya untuk menghafal dan menulis ayat- ayat al- Quran
sebagaimana diajarkannya.
a. Lembaga
pendidikan Islam
Ketika Rasulullah dan
para sahabat hijrah ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan
adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah selesai pembangunan masjid, maka Nabi
Mu.hammad
pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya.
Demikian pula di antara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun
tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat
kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersam membina
masyarakat baru, masyarakat yang bertauhid, dan
mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah
mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al- Quran,
maupun membacakan ayat- ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu
merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang
efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah
disyariatkannya shalat jumat yang dilaksanakan berjamaah dan azan. Dengan shalat jumat tersebut hampir
seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengan khotbah dari
Nabi Muhammad saw dan shalat jumat berjamah.
b. Materi
Pendidikan Islam di Madinah
Pada fase Madinah materi
pendidikan yang diberikan lebih kompleks dibandingkan dengan materi pendidikan fase Makkah. Di
antara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah:
1.
Pendidikan
ukhwah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan
ukhwah ini, Nabi Muhammad saw bertitik dari struktur kekeluargaan yang ada pada
masa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu, Nabi Muhammad saw berusaha untuk
mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka dipersaudarakan karena Allah
bukan karena yang lain.
2.
Pendidikan
kesejahteraan sosial. Terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama-
tama pada terpenuhnya pokok dari pada kehidupan sehari- hari. Untuk itu setiap
orang harus bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi pekerjaan tersebut, Nabi
Muhammad saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah dipersaudarakan
dengan kaum Ansor, agar mereka bekerja bersama dengan saudara- saudara
tersebut. Mereka kaum Muhajirin yang bisa bertani silakan mengikuti pertanian,
yang bisa berdagang silakan mengikuti saudar yang berdagang. Untuk pengamanan,
Nabi Muhammad saw membentuk satuan pengamat yang mendapat tugas untuk menjaga
kemungkinan-kemungkinan terjadinya serangan dan gangguan terhadap kehidupan kaum
muslimin. Satuan-satuan ini adalah merupakan embrio dari pasukan yang bertugas
untuk mengamankan dan mempertahankan serta mendukung tugas tugas dakwah
Islam lebih lanjut.
3.
Pendidikan
kesejahteraan keluarga kaum kerabat. Yang dimaksud dengan keluarga adalah
suami, istri, dan anak- anaknya. Nabi Muhammad saw berusaha untuk memperbaiki
keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan
kekerabatan baru, yang berdasarkan takwa kepada Allah. Diperkenalkannya system
kekeluargaan dan kekerabatan yang berdasarkan pada pengakuan hak- hak individu,
hak- hak keluarga dan kemurnian keturunannya dalam kehidupan kekeraban dan
kemasyarakatan yang adil dan seimbang, seperti yang terlihat dalam surat al-
Hujarat ayat 13:
Hai manusia
sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laiki- laki dan seorang perempuan,
dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling
kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang apaling mulai di antara kamu di sisi
Allah ialah: orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Hubungan kekerabatan, terbentuk
dengan sendirinya sebagi akibat dari aturan tentang muhrim dan ahli waris bagi
seseorang yang meninggal dunia serta aturan perwalian. Dalam hubungan
kekerabatan ini, ciri- ciri individu dan keluarga tampak jelas dan menonjol
dengan hak milik terhadap harta kekayaan, sedangkan ciri kekerabatan hanya
tampak pada hakikatnya hubungan antar individu yang ditandai dengan tidak boleh
melaksanakan perkawinan antar kerabat.
4.
Pendidikan
hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin
merupakan satu negara di bawah Nabi Muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan
dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat
manusia secara bertahap. Oleh karena itu, setelah masyarakat kaum muslimin di Madinah
berdiri dan berdaulat, usaha Nabi Muhammad saw berikutnya adalah memperluas
pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah- kabilah sekitar
madinah untuk mengakui konstitusi madinah. Ajakan tersebut disampaikan dengan
baik-baik
dan bijaksana.
Untuk mereka yang tidak
mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan Nabi Muhammad saw
yaitu:
- Kalau
mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin,
maka mereka dibiarkan saja.
- Tetapi
kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau
menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum
muslimin, maka harus ditundukkan/ diperangi, sehingga mereka menyatakan tunduk
dan mengakui kedaulatan kaum muslimin.
BAB III
PENUTUP
Pola pendidikan Islam
periode Rasulullah saw fase Mekkah- Madinah belum semuanya tertulis dalam
makalah. Paling tidak dari pembahasan tersebut akan ditemukan benang merah
bahwa pola pendidikan fase Makkah dan Madinah memiliki persamaan dan perbedaan,
fase Makkah ada dua lembaga pendidikan yakni rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttab,
sedangkan di Madinah lembaga pendidikan rumah para sahabat dan masjid yang
multifungsi.
Materi
pendidikan di Madinah adalah sebagai berikut:
1.
Pendidikan
ukhwah (persaudaraan) antara kaum muslimin
2.
Pendidikan
kesejahteraan social
3.
Pendidikan
kesejahteraan keluarga kaum kerabat
4.
Pendidikan
hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam
Kurikulum yang dipakai
Makkah dan Madinah adalah sama, yaitu al- Quran yang dijelaskan dengan Hadist
Nabi Muhammad saw yang diturunkan secara beransur-ansur, hanya kurikulum di
Madinah lebih komplit, seirama dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada
Rasulullah saw.
DAFTAR PUSTAKA
- Iqbal, Muhammad. 2015. Pola Pendidikan Islam Pada Periode Rasulullah Mekkah Dan Madinah. Vol, 15. No. 18.
- Zuhairin,
dkk, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta:
Bumi Aksara bekerja sama dengan Direktorat Jenderal
Pembinaan Kelembagaan Agama islam Departemen Agama, 1997), cet
ke- 5.
- B, Chaeruddin. 2013. Pendidikan Islam Masa Rasulullah Saw. Vol, 1. Nomor 3.