Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh..
Untuk para guru dan calon guru kini hadir aplikasi MERODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN..
Yang akan mempermudah anda dalam melakukan pembelajaran, selain penjelasan aplikasi ini sudah dilengkapi vidio praktik pembelajaran juga lo.
Daripada penasaran langsung Download aja yukk di link dibawah ini

https://www.mediafire.com/file/t05hlo0wo4h15lt/Metode_dan_Strategi_Pembelajaran_com.my.MetodedanStrategiPembelajaran.apk/file









Kalau da instal jangan lupa kritik dan saranya ya.
Trimakasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh. 

Mengapa Harus Islam?


Islam telah menjadi suatu yang sangat mendarah daging bagi masyarakat indonesia dan menjadi agama dengan jumlah penganut terbesar di negara ini, namun sayang ketika ditanyakan kepada para penganut-penganutnya mengapa mereka memilih islam masih banyak orang yang bingung untuk memberikan jawaban dan kebanyakan meraka akan menjawab karena islam yang paling benar tapi setelah pertanyaan itu dilanjutkan , "Dimana letak kebenaran islam?", makah meraka juga akan semakin kebingungan. Untuk menjawab itu saya tertarik dengan pemikiran Sayyid Amir Ali tentang apologisme islam (sebuah pemikiran yang didasari bahwa islam adalah agama yang benar) yang dituliskan dalam buku The Spirit Of Islam. Didalam pemikiranya tersebut Amir Ali menyebutkan beberapa hal yang menjadi penguat tentang kebenaran dan kebaikan  islam, Hal-hal tersebut dinyatakan Amir Ali untuk melawan pemikiran-pemikiran yang melemahkan islam atau meragukan kebaikan islamhal tersebut adalaha  sebagai berikut:


  • Sosok Nabi Muhammad
Nabi Muhammad merupakan nabi dan juga Rosul yang tak bisa dipisahkan dari agama islam karena beliaulah yang telah menjadi perantara Allah untuk menyampaikan kebaikan (islam) kepada umat manusia. Nabi Muhaamat menuru Sayyid Amir Ali adlah sosok yang manis, lemah lembut, pemaaf, kesatria serta  belas kasih. Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh nabi Muhaamad tersebut bisa menjadi salah satu hal yang dapat menunjukan kebaikan islam karena kalau kita lihat lebih jauh tentang sejarah kehidupan nabi Muhammad beliau memang sosok yang dikenal akan kebaikan akhlaknya oleh masyarakat arab pada masa itu.


  • Keesaan Allah
Kalau kita lihat sistem ketuhanan sebelum islam datang adalah Polotheis (tuhan lebih dari satu) dan high-god theology (terdapat satu tuhan utama dengan tuhan-tuhan kecil dibawahnya) dan islam datang dengan monotheisme(tauhid) sejati dimana tuhan benar-benar hanya satu dan tidak boleh adanya suatu apapun yang disetarakan dengan dengan-Nya, dengan hal tersebut islam juga mengkritisi agama-agama yang dekat dengan islam yaitu yahudi dan nasrani. Islam menkritisi yahudi yang memiliki dewa-dewa dan menggap Uzzair sebagai putera Allah dan mengkritisi nasrani yang terlalu memuja atau menuhankan Isa .


  • Shalat
Shalat merupakan ritual atau syareat didalam islam yang sangat istimewah. Kalau kita lihat di agama-agama lain tidak ada agama yang ibadahnya mempunyai aturan-aturan yang jelas seperti shalat didalam agama islam. Shalat juga merupakan ibadah yang tanpa perantara, seorang hamba bisa langsung bermunajat atau mendekatkan diri kepada Allah hal tersebut berbeda dengan beberapa agama yang membutuhkan seorang tokoh agama sebagai perantaranya dengan tuhan.
Shalat juga mengajarkan kedisiplinan kepada umatnya karena waktu-waktu didalam shaat telah ditetapkan dan secara tidak langsung akan  melati umat islam untk senantiasa disiplin akan waktu.


  • Puasa
 Kebiasaan menjalankan puasa telah ada sejak zaman kuno dalam setiap agama. Puasa dianggap sebagai media yang ampuh untuk mensucikan jiwa seseorang. Demikian juga dalam Islam, akan tetapi menurut Islam, puasa dilakukan dengan maksud untuk mengekang hawa nafsu dan dibatasi dalam waktu tertentu. Dalam agama-agama lain, puasa sering kali dilaksankan untuk membinasakan tenaga-tenaga rohani dan jasmani dan memajukan aktetisne yang tidak sehat. HaI ini disebabkan karena puasa dalam agama lain dilakukan tanpa adanya perhitungan-perhitungan dan aturan-aturan tertentu, tidak memperhatikan kondisi jasmaniah manusia. Dalam Islam puasa diatur, tidak boleh dilakukan secara terus menerus. Bagi yang sedang sakit dan mempunyai halangan yang lain diberi aturan tersendiri.
  • Zakat
Semua agama juga mengajarkan umatnya untuk bersedekah sebagai pernyataan konkrit rasa kasih sayang terhadap sesama. Tetapi hanya agama Islam yang menjadikannya sutau kewajiban. Dalam agama lain, sedekah atau memberi sesuatu kepada manusia lain yang memerlukan tergantung kepada kemauan orang perseorangan. sehingga sifatnya tidak teratur dan insedentil. Zakat diatur dengan aturan-aturan tertentu, baik menyangkut subyek yang mengeluarkan maupun obyek kepada siapa zakat itu diberikan. Bagi orang yang akan memberikan zakat, terlebih dahulu hartanya harus mencapai nisab atau batas. Demiklan juga zakat itu di berikan kepada orang-orang tertentu, misalnya kepada fakir miskin, orang-orang yang dalam perjalanan dan orang yang baru masuk Islam. 

  • Haji
Kewajiban Haji itu itu bagi yang mampu baik fisik mapun perjalanan dan mempunyai cukup persediaan bagi keluarga yang ditinggalkan. Dengan berziarah ke Mekkah dan Madinah, Ummat Islam diingatkan kepada perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan IsIam. Hikmah yang terkandung dalam ibadah haji adalah membangun persahabatan dan persaudaraan dalam keimanan. Ketika mereka bertemu ditempat suci Ka'bah, dengan mudah timbul ikatan baru yang berupa kasih sayang dan persaudaraan. 

  • Aherat
Bangsa yang pertama kali percaya pada kehidupan akhirat: Mesir.
Agama-agama yang datang sebelum Islam pada umumnya menggambarkan bahwa di hidup kedua itu manusia akan memperoleh upah dan balasan dalam bentuk jasmani dan bukan dalam bentuk rohani.
Ameer Ali cenderung berpendapat bahwa balasan nanti dalam bentuk rohani atau immateri, Kalau al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang memberikan gambaran balasan jasmani, maka itu semata-mata ditujukan kepada masyarakat awam yang mempunyai tingkat pemikiran yang sederhana.
Manfaat beriman kepada akhirat: mendorong manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat dan peningkatan moral golongan awam, apabila ganjaran dan balasan di akhirat digambarkan dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh panca indera. 

  • Perbudakan
Sistem perbudakan sudah semenjak zaman purba ada dalam masyarakat manusia seluruhnya. Bangsa Yahudi, Yunani, Romawi, dan Jerman di masa lampau mengakui dan memakai sistem perbudakan.
Islam, berlainan dengan agama-agama sebelumnya, datang dengan ajaran untuk menmbebaskan sistem perbudakan. Dosa-dosa tertentu dapat ditebus dengan memerdekakan budak. Budak harus diberi kesemapatan untuk membeli kemerdekaannya dengan upah yang ia peroleh. Budak harus diperlakuakan dengan baik dan tidak boleh diperbedakan dengan manusia lain. Oleh karena itu, dalam Islam, ada di antara budak-budak yang akhirnya menjadi perdana menteri.


  • Poligami
Poligami menurutnya sudah melembaga sejak dulu. Pandangan ini juga dianut oleh masyarakat Hindu, Babilonia, Assyria, Persia dan Israel. Di kalangan orang Arab, di samping sistem beristri banyak, juga ada kebiasaan hubungan perkawinan sementara.
Poligami justru mendapatkan pembatasan dalam Islam. Bahkan menurut Ameer Ali, Islam mempunyai kecenderungan monogami, bukan poligami. Dalam menafsirkan surat al-Nisa’ ayat 3, ia menganggap bahwa sekalipun secara sekilas memperlihatkan kebolehan berpoligami, jiwa ayat itu sesungguhnya melarang berpoligami. Syarat adil yang disebutkan di situ sebenarnya sangat sukar untuk dipenuhi dan dilaksanakan oleh seorang suami.
Sekalipun demikian, Ameer Ali tidak memungkiri kenyataan kebolehan poligami. Hal ini menurutnya bisa terjadi tergantung pada keadaan. Ada masa-masa dan keadaan masyarakat, di mana poligami itu sungguh-sungguh perlu dilaksanakan, demi untuk memelihara wanita dari kelaparan dan kemelaratan. 

Mungkin itu adalah hal-hal istimewah yang menjadikan islam sebagai agama yang benar dan baik..




MAKALAH
POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE RASULULLAH







OLEH:
NAMA           




PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
  1. LATAR  BELAKANG
Rasulullah SAW sebagai suri teladan dan rahmatan lil’alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah (alahzab: 21) pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan islam. Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spiritualisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan mukjizat luar biasa, yang manusia apa dan dimana pun tidak dapat dilakukan hal yang sama.
Hasil pendidikan islam periode Rasulullah terlihat dari kemampuan muridmuridnya (para sahabat) yang luar biasa, misalnya: umar ibn Khotab ahli hukum dan pemerintahan, Abu Hurairah ahli hadist, Salman al- Farisi ahli perbandingan agama: Majusi, Yahudi, Nasrani dan Islam; dan Ali ibn Abi Thalib ahli hukum dan tafsir alQur’an, kemudian murid dari sahabat dikemudian, tabi- tabiin, banyak yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan sains, teknologi, astronomi, filsafat yang mengantar islam ke pintu gerbang zaman keemasan. Hanya periode Rasulullah, fase Makkah dan Madinah, para aktivis pendidikan dapat menyerap berbagai teori dan prinsip dasar yang berkaitan dengan pola- pola pendidikan dan interaksi social yang lazim dilaksanakan dalam setiap manajemen pendidikan Islam.
Gambaran dan pola pendidikan islam diperiode Rasulullah SAW dimekkah dan Madinah adalah sajarah masa lalu yang perlu kita ungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber gagasan, gambaran strategi menyukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam. Pola pendidikan dimasa Rasulullah tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidikan, peserta didik, lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoritis maupun praktis.


  1. RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana keadaan sosiokultural masyarakat makkah?    
2.      Bagaimana keadaan sosiokultural masyarakat madinah?























 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    SOSIOKULTURAL MASYARAKAT MEKKAH DAN MADINAH

Kondisi sosiokultural masyarakat Arab pra- Islam. Terutama pada masyarakat Mekkah dan Madinah. Secara jumlah orang- orang yang masuk Islam pada fase Mekkah lebih sedikit dari pada orang- orang yang masuk Islam pada fase Madinah. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat Madinah lebih mudah dimasuki ajaran Islam saat kondisi masyarakat, khususnya Aus dan Khazraj, sangat membutuhkan seorang pemimpin untuk melenturkan pertikaian sesama mereka dan sebagai “pelindung” dari ancaman kaum Yahudi, di samping sifat penduduknya lebih ramah yang dilatarbelakangi letak wilayah yang lebih nyaman dan subur. Pola pendidikan Islam periode Rasulullah SAW yang dapat dibedakan menjadi dua fase, yaitu: Fase Mekkah dan Fase Madinah.

Fase Mekkah

Sebagai calon panutan umat manusia, Muhammad ibn Abdullah sejak “awal sekali” telah disiapkan Allah, dengan menjaganya dari sikap-sikap jahiliah, dengan akhlaknya yang terpuji. Muhammad ibn Abdullah masih sempat mendapat gelar penghargaan tertinggi, yaitu: al- amin. Ibn Abdullah, seseorang yang teguh mempertahankan tradisi nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki, menjauhkan diri dari keramaian dan menyendiri di Gua Hira. Pada tanggal 17 Ramadhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat al- Alaq 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Mekkah.

a. Tahapan Pendidikan Islam pada Fase Mekkah

Pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini ada tiga tahap:
1. Tahapan Pendidikan Islam Secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation) al-Qur’an surat 96 ayat
5 pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi sembunyi mengingat kondisi yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula- mula Rasulullah mendidik istrinya Khadijah untuk beriman kepada Allah dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Siddiq. Secara beransur- ansur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas dikalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja, seperti Usman Ibn Affan, Zubir Ibn Awan, Sa’at Ibn Abi Waqas, Abdurrahman Ibn auf, Thalhah Ibn Ubaydillah, Abu Ubaydillah Ibn Jahrah, Arqam Ibn Arqam, Fatimah Binti Khattab, Said Ibn Zaid dan berapa orang lainnya mereka semua tahap awal ini disebut Assabiquna Al-awwalun, artinya orang- orang yang pertama masuk Islam. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqam Ibn Arqam.
2.      Tahap pendidikan Islam secara terang- terangan
Pendidikan secara sembunyi- sembunyi berlangsung tiga tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secar terbuka dan terangterangan. Ketika wahyu tersebut turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul dibukit Shafa, menyerukan agar berhati- hati terhadap azab yang pedih bari orang- orang yang tidak mengakui Allah sebagi Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusanNya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, celakalah kamu Muhammad! Untuk ini kah kami mengumpulkan kami? Saat itu turun wahyu menjelaskan tentang Abu Lahab dan istrinya.
Perintah dakwah secara terang- terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan  dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Di samping itu, keberadaan rumah Arqam Ibn Arqam sebagi pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh kuffar Quraisy.

3.      Tahap pendidikan Islam untuk umum
Hasil seruan dakwah secara terang- terangan yang terfokus kepada keluarga dekat kelihatannya belum maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka, Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah, surat al- Hijr ayat 94- 95.
Rasulullah mendatangi kemah- kemah para jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima kecuali sekelompok jamaah haji dari Yastrib, kabilah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah Islam keluar Mekkah. Penerimaan masyarakat Yastrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenakan beberapa faktor:
1. Adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahir seorang Rasul.
2. Suku Aus dan Khajraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok   Yahudi.
 3. Konflik antara Khajraj dan aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama.
Oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pemimpin yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Berikutnya, di musim haji pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad, Rasulullah didatangi dua belas orang laki- laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan yang dikenal dengan “Bai’ah Al- ‘aqabah I” mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah swt., tidak akan mencuri dan berzina, tidak akan membunuh anak- anak, dan menjauhkan perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dan tidak mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.
Berkat semangat yang dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam sehingga seluruh penduduk Yastrib masuk Islam kecuali orang- orang Yahudi. Musim haji berikutnya 73 orang jamaah dari yastrib mendatangi Rasulullah saw dan menetapkan keimanan kepada Allah dan rasulnya ditempat yang sama dengan pelaksanaan (Bai’ah Al- ‘aqabah I tahun lalu) yang dikenal dengan Bai’ah Al- ‘aqabah II dan mereka bersepakat akan memboyong Rasulullah ke Yastrib.

b. Materi Pendidikan Islam

Materi pendidikan pada fase Mekkah dapat dibagi kepada dua bagian yaitu:
1.      materi pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa nabi Ibrahim yang telah diselewengkan oleh masyarakat Jahiliyah. Secara teori inti sari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat al- Fatihah ayat 1- 7 dan surat al- Ikhlas ayat 1- 5. Secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui carayang bijaksana menuntut pikiran dengan mengajak umatnya untuk membaca, memerhatikan, memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. Kemudian beliau mengajarkan cara bagaimana cara mmenerapkan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari- hari. Rasulullah langsung menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasaan masyarakat arab yang memulai perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim. Kebiasaan menyembah berhala diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah swt.
2.       Materi pengajaran al- Quran. Materi ini dapat dirinci:
1.      Materi baca tulis al- Quran, dengan materi ini diharapkan agar kebiasaan orang arab yang sering membaca syair- syair indah diganti dengan membaca al- Quran sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai sastranya.
2.      Materi menghafal ayat- ayat al- Quran.
3.      Materi pemahaman al- Quran, tujuan materi ini adalah meluruskan pola pikir umat Islam yang dipengaruhi pola pikir jahiliyah.

c. Metode Pendidikan Islam

Metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah antara lain:
1.      Metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan- penjelasan serta keterengan- keterangannya.
2.      Dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagi kadi ke negeri Yaman, dialog antara rasul dengan para sahabat untuk mengatur strategi perang.
3.      Diskusi atau tanya jawab, sering Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian Rasul menjawab.
4.      Metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya.
5.      Metode kisah, misalnya kisah beliau dalm perjalanan isra’dan miraj dan kisah tentang pertemuan nabi Musa dengan nabi Khidir.
6.      Metode pembiasaan: membiasakan kaum muslimin shalat berjamaah.
7.      Metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al- Quran dengan menghafalnya.

d. Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum pendidikan Islam pada periode Rasulullah baik di Mekkah maupun di Madinah adalah al- Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa  yang dialami oleh umat Islam pada saat itu.

        e.   Lembaga Pendidikan Islam

Lembaga pendidikan Islam pada fase Mekkah ada dua macam tempat, yaitu:
1.      Rumah Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum- hukum dan dasar- dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
2.      Kuttab. Pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakan dirumag Arqam ibn Arqam, pendidikan di rumah Arqam ibn Arqam kandungan materi tentang hukum Islam dan dasar- dasar agama Islam.sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis Al- Qur’an dan memahami hukum- hukum
Islam. Adapun guru yang mengajar di kuttab pada era awal Islam adalah orang-orang non- Islam. Salam sejarah pendidikan Islam istilah kuttab berasal dari bahasa arab yakni kataba, yaktubu, kitaaban yang artinya telah menulis, sedang menulis dan tulisan, sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis.

Fase Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin Mekkah, disebut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang bisa dgunakan untuk menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari- hari. Wahyu secara beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad saw dalam mengajarkan al- Quran adalah mengajarkan pengikutnya untuk menghafal dan menulis ayat- ayat al- Quran sebagaimana diajarkannya.

a. Lembaga pendidikan Islam

Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah selesai pembangunan masjid, maka Nabi Mu.hammad pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula di antara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersam membina masyarakat baru, masyarakat yang  bertauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al- Quran, maupun membacakan ayat- ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyariatkannya shalat jumat yang dilaksanakan berjamaah dan azan. Dengan shalat jumat tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengan khotbah dari Nabi Muhammad saw dan shalat jumat berjamah.

b. Materi Pendidikan Islam di Madinah

Pada fase Madinah materi pendidikan yang diberikan lebih kompleks dibandingkan dengan materi pendidikan fase Makkah. Di antara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah:
1.      Pendidikan ukhwah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan ukhwah ini, Nabi Muhammad saw bertitik dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu, Nabi Muhammad saw berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka dipersaudarakan karena Allah bukan karena yang lain.
2.      Pendidikan kesejahteraan sosial. Terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama- tama pada terpenuhnya pokok dari pada kehidupan sehari- hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi pekerjaan tersebut, Nabi Muhammad saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah dipersaudarakan dengan kaum Ansor, agar mereka bekerja bersama dengan saudara- saudara tersebut. Mereka kaum Muhajirin yang bisa bertani silakan mengikuti pertanian, yang bisa berdagang silakan mengikuti saudar yang berdagang. Untuk pengamanan, Nabi Muhammad saw membentuk satuan pengamat yang mendapat tugas untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan terjadinya serangan dan gangguan terhadap kehidupan kaum muslimin. Satuan-satuan ini adalah merupakan embrio dari pasukan yang bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan serta mendukung tugas tugas dakwah Islam lebih lanjut.

3.      Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat. Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, dan anak- anaknya. Nabi Muhammad saw berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan takwa kepada Allah. Diperkenalkannya system kekeluargaan dan kekerabatan yang berdasarkan pada pengakuan hak- hak individu, hak- hak keluarga dan kemurnian keturunannya dalam kehidupan kekeraban dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang, seperti yang terlihat dalam surat al- Hujarat ayat 13:
Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laiki- laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang apaling mulai di antara kamu di sisi Allah ialah: orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Hubungan kekerabatan, terbentuk dengan sendirinya sebagi akibat dari aturan tentang muhrim dan ahli waris bagi seseorang yang meninggal dunia serta aturan perwalian. Dalam hubungan kekerabatan ini, ciri- ciri individu dan keluarga tampak jelas dan menonjol dengan hak milik terhadap harta kekayaan, sedangkan ciri kekerabatan hanya tampak pada hakikatnya hubungan antar individu yang ditandai dengan tidak boleh melaksanakan perkawinan antar kerabat.
4.      Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin merupakan satu negara di bawah Nabi Muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu, setelah masyarakat kaum muslimin di Madinah berdiri dan berdaulat, usaha Nabi Muhammad saw berikutnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah- kabilah sekitar madinah untuk mengakui konstitusi madinah. Ajakan tersebut disampaikan dengan baik-baik dan bijaksana.
Untuk mereka yang tidak mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan Nabi Muhammad saw yaitu:
  1. Kalau mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin, maka mereka dibiarkan saja.
  2. Tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, maka harus ditundukkan/ diperangi, sehingga mereka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslimin.

 


 
















BAB III

PENUTUP

Pola pendidikan Islam periode Rasulullah saw fase Mekkah- Madinah belum semuanya tertulis dalam makalah. Paling tidak dari pembahasan tersebut akan ditemukan benang merah bahwa pola pendidikan fase Makkah dan Madinah memiliki persamaan dan perbedaan, fase Makkah ada dua lembaga pendidikan yakni rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttab, sedangkan di Madinah lembaga pendidikan rumah para sahabat dan masjid yang multifungsi.
Materi pendidikan di Madinah adalah sebagai berikut:
1.      Pendidikan ukhwah (persaudaraan) antara kaum muslimin
2.      Pendidikan kesejahteraan social
3.      Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
4.      Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam
Kurikulum yang dipakai Makkah dan Madinah adalah sama, yaitu al- Quran yang dijelaskan dengan Hadist Nabi Muhammad saw yang diturunkan secara beransur-ansur, hanya kurikulum di Madinah lebih komplit, seirama dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw.












DAFTAR PUSTAKA
  • Iqbal, Muhammad. 2015. Pola Pendidikan Islam Pada Periode Rasulullah Mekkah Dan Madinah. Vol, 15. No. 18.
  • Zuhairin, dkk, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama islam Departemen Agama, 1997), cet ke- 5.
  • B, Chaeruddin. 2013. Pendidikan Islam Masa Rasulullah Saw. Vol, 1. Nomor 3.






Profil Rosulullah Sebagai Pendidik Ideal

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Subur M.S.I




Disusun oleh :
1.      Suyoko                    18.0401.0033







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

2019




KATA PENGANTAR

       Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah  ini.
       Dalam pembuatan makalah ini, banyak kesulitan yang kami alami terutama disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan sumber-sumber informasi yang masih terbilang terbatas. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari semua pihak akhirnya makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
       Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnaan. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Kritik dan saran sangat diharapkan agar makalah ini menjadi lebih baik serta berdaya guna  dimasa yang akan datang.

Magelang, 11 Sapteber 2019


                                                                                                Penulis















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sosok Rosulullah Sebagai Pendidik.................................................. .............2        
B.     Lembaga-Lembaga Pendidikan Pada Masa Rosulullah................................2
C.     Metode Pendidikan Pada Masa Rosulullah..................................................4
D.    Kurikulum Pendidikan Pada Masa Rosulullah..............................................6
E.     Evaluasi Pendidikan Pada Masa Rosulullah ...................................,.............7
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................... ..9

Daftar Pustaka......................................................................................................... 10





                                                                                              







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Nabi Muhammad sebagai seorang nabi dan rosul memiliki tugas yang sangat vital dalam megarahkan umatnya kejalan yang labih baik atau dalam kata lain selain menjadi rosul beliau juga seorang pendidik yang bertugas mengarahkan para sahabat-sahabatnya dan umat manusia pada waktu itu. Didalam proses pendidikan yang dilakukan rosulullah pada masa itu terdapat beberapa hal yang menjadikan beliau menjadi salah satu role model pendidik  yang ideal , untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas hal-hal yang menjadikan pendidikan dimasa rosulullah sebagai salah satu proses pendidikan yang baik seperti lembaga-lembaga apa saja yang ada dizaman itu, metode pada masa itu dan kurikulum pendidikan yang digunakan pada masa rosulullah.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sosok Rosulullah sebagai serang pendidik ideal?
2.      Apa saja lembaga pendidikan pada masa Rosulullah?
3.      Apa saja metode pendidikan pada masa Rosulullah?
4.      Bagaimana kurikulum pendidikan pada masa Rosulullah?
5.      Bagaimana evaluasi pendidikan pada masa Rosulullah?






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sosok Rosulullah Sebagai Pendidik Ideal
Proses dakwa yang dilakukan Rosulullah tidak bisa dijauhkan dari proses pendidikan dimana ketika dalam dakwa yang dilakukan beliau, beliau senantiasa mengarahkan atau mendidik para sahabat dan kaum muslimin pada masa itu. Sebagai seorang pendidik, rosulullah telah mampu mencapai banyak keberhasilan yang keberhasilan tersebut berdampak kedalam dakwa islam. Hal yag paling menunjukan keberhasilan pendidikan rosulullah adalah semakin berkembangnya agama islam pada masa beliau dan keberhasilan tersebut dapat diraih karena beberapa hal yang berhasil diterapkan rosulullah seperti keberhasilan metode yang dilakukan, keberhasilan kurikulum yang diterapkan dan keberhasilan evaluasi yang dilaksanakan. Keberhasilan-keberhasilan yang menunjukan bahwa rosulullah merupakan serang pendidik yang ideal tersebut akan dijelaskan lebih teperinci pada pembahasan berikutnya.

B.     Lembaga-Lembaga Pendidikan Pada Masa Rosulullah
a.       Rumah
Mahmud Yunus mengatakan bahwa tempat pendidikan Islam yang
pertama dalam sejarah pendidikan Islam adalah rumah Al-Arqam bin Abil
Arqam. Di sinilah Nabi saw., mengajarkan dasar-dasar/pokok-pokok agama Islam, kepada sahabat-sahabatnya. Di sini pula Nabi saw., membacakan ayat–ayat al-Qur‟an kepada pengikut-pengikutnya, menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama Islam dan menanyakan hal-hal yang bersangkut paut dengan agama Islam.[1] Selain di rumah Al-Arqam juga pendidikan Islam dilaksanakan di rumah
Nabi saw, sendiri di mana kaum Muslimin berkumpul untuk belajar dan
membersihkan aqidah mereka.
b.      Masjid
Pendidikan dalam Islam erat sekali hubungannya dengan masjid. Kaum
muslimin telah memanfaatkan masjid untuk tempat beribadah dan sebagai
lembaga pendidikan keagamaan dimana dipelajari kaidah–kaidah Islam,
hukum-hukum agama dan sebagainya. Masjid pertama yang didirikan
Rasulullah saw., adalah masjid Quba‟ di luar kota Madinah. Di masjid inilah Nabi saw. memberikan pelajaran kepada sahabat-sahabatnya mengenai masalah keagamaan dan keduniaan.
Pada prosesnya masjid dihantarkan sebagai pusat peribadatan
dan pengetahuan karena di masjid tempat awal pertama mempelajari
ilmu agama yang baru lahir dan mengenal dasar-dasar, hukumhukum,
dan tujuannya. Masjid yang pertama dibangun adalah
masjid Quba, yaitu setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Seluruh
kegiatan umat difokuskan di masjid termasuk pendidikan. Majelis
pendidikan yang dilakukan Rasulullah bersama sahabat di masjid
dilakukan dengan sistem halakah.
Dalam perkembangannya, di kalangan umat Islam tumbuh
semangat untuk menuntut ilmu dan memotivasi mereka
mengantarkan anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan di
masjid sebagai lembaga pendidikan menengah setelah kuttab.
Kurikulum pendidikan di masjid lazimnya merupakan tumpuan
pemerintah untuk memperoleh pejabat-pejabat pemerintah, seperti
kadi, khatib, dan imam masjid.[2]
c.       Kuttab
Kuttab (tempat sekolah anak-anak) sudah ada di negeri Arab sebelum
datangnya Islam, namun belum dikenal secara luas. Kuttab ini awalnya sebagai tempat belajar menulis dan membaca. Setelah Islam datang, Kuttab dijadikan sebagai tempat mengajarkan al-Qur‟an dan agama di samping sebagai tempat menulis dan membaca. Goldziher sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syalabi telah menulis sebuah artikel penting dalam Ensiklopedia Agama dan Akhlak, menegaskan bahwa kuttab tempat mengajarkan al-Qur‟an dan pokok-pokok agama Islam telah didirikan dimasa permulaan Islam.


C.    Metode Pendidikan Pada Masa Rosulullah
Metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah Saw. dalam membidik sahabatnya antara lain:
a.       Metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya.
b.      Dialog, misalnya dialog Rasulullah dengan Mu’az bin Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai qadi ke negeri Yaman, dialog antara Rasulullah dengan para sahabat untuk mengatur startegi perang.
c.       Diskusi atau tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian Rasulullah menjawab.
d.      Metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan merasakannya.
e.       Demonstrasi, memberi contoh, khususnya yang berkaitan dengan masalah ibadah (seperti: shalat, haji, dan lain-lain)
f.       Kissah-kissah umat terdahulu, orang-orang yang taat mengikuti Rasul dan orang-orang yang durhaka dan balasannya masing-masing seperti: kissah Qarun, kissah Musa, dan lain-lain. Metode ini digunakan khususnya dalam masalah akhlak.[3]
g.      Metode pembiasaan, membiasakan kaum muslimin shalat berjamaah.
h.      Metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.
D.    Kurikulum Pendidikan Pada Masa Rosulullah
Mengindentifikasikan kurikulum pendidikan pada masa
Rasulullah terasa sulit, sebab Rasul mengajar pada sekolah kehidupan yang luas tanpa dibatasi dinding kelas. Rasulullah memanfaatkan berbagai kesempatan yang mengandung nilai-nilai pendidikan dan Rasulullah menyampaikan ajarannya dimana saja seperti di rumah, di masjid, di jalan, dan di tempat-tempat lainnya.
Pendidikan pada masa Rasulullah dapat dibedakan menjadi dua periode, yaitu: periode Mekah dan periode Madinah. Pada periode Mekah, yakni sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah ke Madinah, kurang lebih selama 13 tahun, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada Rasulullah. Bahkan, tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau menentukan materi-materi pendidikan, selain Rasulullah.
Secara umum, materi Al-Qur‘an dan ajaran-ajaran Rasulullah itu menerangkan tentang kajian keagamaan yang menitikberatkan pada teologi dan ibadah, seperti beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari kemudian, serta amal ibadah, yaitu shalat. Zakat sendiri ketika itu belum menjadi materi pendidikan, karena zakat pada masa itu lebih dipahami dengan sedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim. Selain itu, materi akhlak juga telah diajarkan agar manusia bertingkah laku dengan akhlak mulia dan menjauhi kelakuan jahat. Adapun materi-materi scientific belum dijadikan sebagai mata pelajaran. Nabi ketika itu hanya memberikan dorongan untuk memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam raya.
Mahmud Yunus memaparkan materi pengajaran Rasulullah pada masa Mekah ini adalah:
1.      Pendidikan keagamaan, yaitu membaca dengan nama Allah
semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan nama berhala,
karena Allah itu Maha Besar dan Maha Pemurah, karena itu
berhala harus dimusnahkan.
2.      Pendidikan aqliyah dan ilmiyah,  yaitu mempelajari penciptaan manusia dari segumpal darah dan penciptaan alam semesta. Allah akan mengajarkan hal demikian itu kepada orang-orang yang meneliti dan mengkajinya sedangkan mereka tidak mengetahui sebelumnya. Untuk mengetahuinya hendaknya seorang banyak membaca dan mencatatnya dengan pena.
3.      Pendidikan akhlak dan budi pekerti, sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur‘an dan Hadis.
4.      Pendidikan jasmani dan kesehatan, yaitu memperhatikan kesehatan dan kekuatan jasmani, mementingkan kebersihan pakaian, tempat dan makanan.[4]
Pada waktu Rasulullah di Mekah, Pendidikan Agama Islam terfokus pada pembelajaran Al-Qur‘an dan Hadits dengan penekanan pada aqidah dan pokok-pokok agama Islam. Ini mengingat pada masa itu dibutuhkan penanaman keyakinan yang benar kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa (monotheisme). Keyakinan itu harus ditanamkan pada umat Islam dengan kokoh sebagai perlawanan kepada keyakinan kaum Quraisy yang
menganut politheisme. Tradisi yang berkembang pada masa ini adalah tradisi lisan, yaitu tradisi menghafalkan syair-syair atau puisi, yang mereka
terima dari pendahulu dan guru-guru mereka dengan cara menghafal dan melafalkannya. Pada masa itu tradisi tulis baca masih kurang dikenal. Hanya beberapa shahabat yang mempunyai kemampuan baca tulis yaitu Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Thalhah, Yazid bin Abu Sufyan, Abu Hudaifah bin Utbah, Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abu Sufyan dan lain-lain. Namun demikian, sebagian besar sahabat Rasulullah masih belum mengenal tulis baca dan lebih terbiasa dengan budaya menghafal dan budaya lisan. Kedua kemampuan yang dimiliki para sahabatnya itu dimanfaatkan dengan optimal oleh Rasulullah.
Pada periode Madinah, kurang lebih selama 10 tahun, usaha pendidikan Rasulullah yang pertama adalah membangun institusi‘ masjid. Melalui pendidikan masjid ini, Rasulullah memberikan pengajaran dan pendidikan Islam. Ia memperkuat persatuan di antara kaum muslim dan mengikis habis sisa-sisa permusuhan, terutama antar penduduk Anshar dan penduduk Muhajirin.
Di sisi lain, materi pembelajaran pendidikan Islam di Madinah ditambah dengan pembelajaran baca tulis. Rasulullah SAW pernah memerintahkan tawanan perang Badar yang terdiri dari kaum Quraisy untuk mengajarkan membaca dan menulis bagi kaum muslimin yang belum dapat membaca dan menulis sebagai tebusan atas status tawanan mereka di kuttab. Selain itu Rasulullah juga memerintahkan beberapa sahabat seperti al Hakam Ibn Sa‘id untuk mengajar pada sebuah kuttab ketika Rasulullah berada di Madinah. Ini memberikan gambaran bahwa ketika zaman Rasulullah SAW telah dilaksanakan pendidikan di luar pengajaran Al-Qur‘an dan pokok-pokok ajaran Islam. Dengan demikian, pada zaman Rasulullah SAW tidak hanya dkenal pendidikan Islam, tetapi juga membaca dan menulis yang menggunakan guru-guru beragama non Islam.[5]
E.     Evaluasi Pendidikan Pada Masa Rosulullah
Dala pendidikan evaluasi merupakan hal yang sangat penting, evaluasi berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pendid8kan. Selain itu evaluasi juga dapat dijadikan acuan untuk proses pelaksanaan pendidikan kedepanya.
Didalam islam evaluasi telah ada sejak zaman rosulullah, hal tersebut dapat dilihat dari hadit-hadist yang menunjukan evaluasi Rosulullah terhadap para sahabatnya dengan cara rosulullah melontarkan pertanyaan kepada para sahabatnya sebagaimana yang dijelasskan dalam hadist tersebut,
           “Menceritakan kepada kami Qutaibat, menceritakan kepada kami Ismail ibn Ja’far, dari Abdullah Ibn Dinar, dari Ibn Umar, ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda, “ Sesungguhnya diantara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak jatuh ke tanah (secara berguguran). Pohon itu bagaikan seorang muslim. Jelaskanlah kepadaku pohon apa itu? “ orang-orang mengatakan pohon itu terdapat di pedalaman. ‘Abdullah Berkata, “ dalam benakku terbetik pikiran bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Akan tetapi aku malu menjawabnya. “ Orang-orang barkata “ beritahukanlah kepada kami, pohon apakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab Pohon kurma.” (HR. Bukhari)”
Selain dengan cara memberikan pertanyaan langsung kepada para sahabatnya rosulullah juga melakukan evaluasi dengan cara mengamati secara langsung para sahabatnya dan dari pengamatan yang ia lakukan rosulullah akan menemukan tanda-tanda tertentu yang menjadi tolak ukur dari pendidikan atau pengajaran yang telah dilakukan. Misal pengamatan rosulullah terhadap tanda-tanda yang ada pada orang munafik.dan dengan tanda-tanda itu roslllah dapat melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan yang ia lakukan.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah menyelesaikan makalah ini kami dapat menyimpulkan bahwa :
1.      Rosulullah merupakan teladan yang baik sebagai seorang pendidik,hal tersebut bisa dilihat dari sosok rosul sebagai seorang pendidik yang ideal dan dapat dijadikan contoh di zamanmoderen ini,
2.      Keidialan rosulullah sebagai seorang pendidik dapat dilihat dari beberapa hal diantaranya lembaga yang saat itu ada sudah tertata dengan jelas, kurikulum pendidikan yang diberikan rosuullah merupakan salah satu kurikulum yang sangat tertata dan menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa dan juga banyaknya metode yang dilakukan rosulullah juga menjadi bukti bahwa rosulullah merupakan sosok ideal sebagai seorang pendidik.











DAFTAR PUSTAKA
Yunus, Mahmud. 1990.  Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta: Penerbit PT. Hidakarya Agung.

Dahlan, Zaini. 2018.  Sejarah Pendidikan Islam. Medan : Uin Su.

Nizar, Syamsul. 2007.Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Zuhairini, et.al. 1986. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. Ditjen Binbaga Islam Depag RI.


[1] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam(Jakarta: Penerbit PT. Hidakarya Agung, 1990) hlm. 6.

[2] Zaini Dahlan, Sejarah Pendidikan Islam (Medan : Uin Su,2018) hal, 7
[3] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam(Jakarta: Penerbit PT. Hidakarya Agung, 1990) hlm. Hal 24-25.
[4] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam(Jakarta: Hidakarya Agung,
1990), h. 27.
[5] Zaini Dahlan, Sejarah Pendidikan Islam (Medan : Uin Su,2018) hal, 7